admin June 18, 2019

Ketua MK Anwar Usman. (Foto/Istimewa)

Penulis: Fathullah,S.Donggo > CEO Dan Owner Media Stabilitas Group

JAKARTA, (Harian Stabilitas.Com) – Mahkamah Konstitusi (MK) kembali menggelar pemilihan Ketua MK untuk menggantikan Arief Hidayat yang telah dua kali dipilih. Melalui pemungutan suara yang dilakukan 9 hakim konstitusi, Senin (2/4/2018) yang lalu, Anwar Usman akhirnya terpilih menjadi orang nomor satu di MK hingga 2020 mendatang.

Nama BESAR Anwar Usman asal kelahiran di Bima, Nusa TGenggara Barat (NTB) pada 31 Desember 1956, kini makin tenar hingga dunia INTERNASIONAL. Bagaimana tidak ia juga mantan bintang Film Nasional berjudul,”Perempuan dalam Pasungan pada tahun 1980,”. Anwar Usman mengawali karir sebagai seorang guru honorer. Mengutip halaman situs resmi MK, Anwar sendiri tidak membanyangkan bisa menjadi hakim konstitusi. Dia menyatakan bahwa kariernya merupakan amanah serta petunjuk dari jalan Allah untuk saya emban dan jalani. Salah satunya seperti di hadapi saat ini dalam perkara persengketaan pemilihan Presiden RI dan pemilihan Legislatif 2019.

“Ada Filosofi Dan Prinsip Hidup Sebagai Orang Bima Selalu Berpegang Petunjuk Dari Allah, Saya Tidak Takut Pada Siapa Pun, Kecuali ALLAH”

“Saya sama sekali tak pernah membayangkan untuk mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden. Saya juga tak pernah membayangkan bisa terpilih menjadi salah satu hakim konstitusi,” jelas suami dari Hj Suhada yang merupakan seorang bidan yang kini mengurus RS Wijaya Kusuma, Lumajang, dan RS Budhi Jaya Utama Depok.

Anwar Usman besar di kota kelahirannya, Bima. Dia menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) yang mengantarkannya menjadi seorang guru ketika merantau ke Jakarta. Dari sana dia melanjutkan pendidikan S1-nya dengan memilih Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta, sambil tetap mengajar.

Bintang Film Jadi Ketua MK

Di samping menggeluti dunia pendidikan, Anwar Usman juga dikenal sebagai seorang pecinta dunia seni. Selama mahasiswa dia aktif di dunia teater. Bahkan, dia sempat bermain film Perempuan dalam Pasungan pada tahun 1980 yang dibintangi Nungki Kusumastuti, Frans Tumbunan dan Rini S Bono, yang disutradarai Ismail Soebardjo.

Suasana sidang di gedung MK yang di ketuai Anwar Usman, di Jakarta. (Foto/Dok)

Dunia peran tak lama digeluti Anwar karena ditentang orang tua yang hanya tahu keberadaannya di Jakarta untuk melanjutkan studi. Mengenang dunia yang pernah disentuhnya itu, Anwar Usman mengatakan bahwa dunia seni sedikit-banyak telah memberikan pelajaran tentang filosofi kehidupan.

Anwar Usman meraih gelar Sarjana Hukum pada 1984. Setelah lulus itu dia kemudian masuk menjadi Calon Hakim PN Bogor satu tahun setelah kelulusannya. Setelah itu dia sempat tugas di PN Atambua dan PN Lumajang.

Sementara di Mahkamah Agung, jabatan yang pernah diduduki yaitu Asisten Hakim Agung mulai dari 1997-2003, Kepala Biro Kepegawaian Mahkamah Agung 2003-2006, Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta pada 2005 dengan tetap dipekerjakan sebagai Kepala Biro Kepegawaian MA.

Profil Singkat Anwar Usman (AUS) Sebagai Ketua MK :

Anwar Usman (AU) mengawali karier sebagai seorang guru honorer pada 1975. Anwar dibesarkan di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima, Nusa Tenggara Barat, dan terbiasa hidup dalam kemandirian. Lulus dari PGAN pada 1975, Anwar merantau ke Jakarta dan langsung menjadi guru honorer di SD Kalibaru. Selama menjadi guru, Anwar pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1. Ia pun memilih Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta dan lulus pada 1984. Selama menjadi mahasiswa, Anwar aktif dalam kegiatan teater.

Sukses meraih gelar Sarjana Hukum pada 1984, Anwar mencoba ikut tes menjadi calon hakim. Keberuntungan pun berpihak kepadanya ketika lulus dan diangkat menjadi calon Hakim Pengadilan Negeri Bogor pada 1985.

Hingga akhirnya ditarik ke Mahkamah Agung (MA). Di Mahkamah Agung, jabatan yang pernah didudukinya, di antaranya menjadi Asisten Hakim Agung mulai dari 1997 – 2003, Kepala Biro Kepegawaian Mahkamah Agung periode 2003–2006, dan pada 2005 diangkat menjadi Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta dengan tetap dipekerjakan sebagai Kepala Biro Kepegawaian.

Dan, pada akhirnya MA mengajukannya sebagai Hakim Konstitusi untuk periode pertama 6 April 2011-6 April 2016. Prinsip Anwar dalam menjalankan tugas sebagai hakim selama ini selalu mencontoh Rasulullah SAW. Penegakan hukum dan keadilan harus diberlakukan terhadap siapapun tanpa terkecuali. Demikian Motto Hidupnya.

Sengketa Pilpres Berakhir di MK Di Pimpin Anwar Usman (Dou Mbojo)

Proses Pemilihan Presiden (Pilpres) periode 2019-2023 dipastikan belum selesai setelah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memutuskan akan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Kini kubu pasangan calon (paslon) 02 menaruh harapan terakhir kepada MK setelah KPU mengumumkan hasil perolehan suara, dimana pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin merauh 55,50 persen, sementara kubu Prabowo-Sandi memperoleh suara hanya 44,50 persen.

Kendati banyak kalangan menilai langkah tersebut akan sia-sia mengingat selisih perolehan suara yang terpaut cukup jauh yakni 16,6 juta, namun BPN tetap menaruh harapan kepada (9) Hakim Konstitusi yang akan menyidangkan gugatan pilpres tersebut.

Lantas siapa saja para Hakim Konstitusi yang akan menentukan hasil Pilpres 2019? Terdapat sembilan hakim MK yang akan menyidangkan sengketa Pilpres 2019. Berdasarkan penelusuran Media Stabilitas Group di laman resmi MK mengungkapkan nama-nama dan jabatan ke sembilan Hakim Konstitusi yang akan menyidangkan gugatan kubu Prabowo-Sandi melawan kubu Jokowi-Ma’ruf Amin.

Inilah ke esmbilan Hakim Konstitusi (MK) sebagai penentu siapa pemenang sebagai Presiden preode 2019-20123 mendatang.(Foto:istimewa)

Adapun para hakim konstitusi yang bisa menentukan siapa pemenang sebagai Presiden preode 2019-2023 yaitu:

1. Dr. Anwar Usman, S.H., M.H. (Ketua)
2. Prof. Dr. Aswanto, S.H., M.Si., DFM. (Wakil Ketua)
3. Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S.
4. Dr. Wahiduddin Adams, SH., M.A.
5. Dr. I Dewa Gede Palguna, S.H., M.Hum.
6. Dr. Suhartoyo, S.H., M.H.
7. Dr. Manahan M. P. Sitompul, S.H., M.Hum.
8. Prof. Dr. Saldi Isra., S.H., MPA.
9. Prof. Dr. Enny Nurbaningsih, S.H.,M.Hum.

“Rasa-rasanya dalam pemilihan Presiden kali ini siapa pemenangnya adalah di tentukan ke sembilan orang membidangi hukum ini, jadi bukan jutaan rakyat Indonesia sebagai azas kedautan RAKYAT adalah penentunya,”Semoga MK Bisa memilih dan memilahnya. (Red*HS)
#Penulis:Pemimpin Redaksi Harian Stabilitas.Com – FS.Donggo
# Editor: Wahyu, S.