admin November 18, 2020

Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD

23 September 1953 – Sekarang

PROFIL TOKOH

Nama lengkap : Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD

Profesi : birokrat

Lahir : Aceh, 23 September 1953

Tekad belajarnya yang kuat, pria kelahiran Aceh ini menuai kesuksesan. Dari pedagang telur hingga menjadi menteri beberapa kali.

Sofyan A. Djalil biasa dipanggil Sofyan. Ia lahir di Aceh,  23 September 1953, dari keluarga sederhana. Bapaknya tukang cukur, ibunya guru mengaji. Tidak heran bila Sofyan kecil berjualan terlur untuk menambah biaya hidup. Sekolah dasar dan menengah dia selesaikan di Aceh. Sofyan sosok anak yang memiliki tekad belajar yang kuat.

Pada tahun 1976, dalam usia  23 tahun, dia berangkat ke Jakarta untuk menghadiri kegiatan Muktamar Nasional Pelajar Islam Indonesia (PII). Sejak itu, ia memilih tetap tinggal di Jakarta.

Berbagai kerja serabutan dia lakukan. Dia menjadi kondektur metromini dan juga menjadi pengurus masjid  Pusdiklat Kejaksaan Agung, Jakarta.

Tiada hari tanpa kuliah dan kerja. Usai bekerja di pagi hari, ia lanjutkan kuliah sore di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, bidang studi hukum bisnis.

Ia tamat pada tahun 1983. Sofyan menggondol gelar sarjana hukum pada usia 30 tahun. Setelah itu, ia ikut lembaga kajian, dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri untuk meraih gelar master dan doktor di Tufts University, Medford, Massachusetts, Amerika Serikat.

Berbekal pendidikan yang dimiliki, pintu sukses mulai terbuka untuk Sofyan. Mulai menjadi dosen, peneliliti, konsultan, hingga menjadi komisaris berbagai perusahaan lokal dan mancanegara. Sofyan juga menjadi menteri beberapa kali. Ia menjadi menteri komunikasi dan informatika (2004-2007) dan menteri negara BUMN (2007-2009) pada kabinet Indonesia Bersatu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah tidak terdengar lama nama Sofyan di pentas nasional, namanya muncul kembali pasca Pilpres 2014. Presiden terpilih Jokowi menunjuknya menjadi menteri Koordinator bidang perekonomian dalam Kabinet Kerja 2014-2019.

Namun, belum setahun kabinet ini berjalan, Sofyan kena pergantian kabinet. Ia dipindah menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas periode 2015-2019. Lagi-lagi, pada pertengahan 2016, ia kembali digeser menjadi  Menteri Agraria dan Tata Ruang.  Sofyan, dalam dua tahun di kabinet Jokowi, menduduki tiga kali posisi menteri yang berbeda.

KELUARGA

Istri          : Mega Ratnawangi
Anak        : Empat orang anak

PENDIDIKAN

SD di Aceh
SLTP di Aceh
SLTA di Aceh

Universitas Indonesia,Hukum Bisnis, S1, Jakarta, S1 tahun 1984
The Graduate School of Arts and Sciences, bidang Public Policy Tufts University, Medford, AS, S2, 1989
The Fletcher School of law and Diplomacy, Tufts University, bidang International Economic Relation, S2, 1991. The Fletscher School of Law and Diplomacy, Tufts University Medford, bidang International Financial, S3,1993

KARIER
Kepala Divisi Riset dan Pengembangan, PT Bursa Efek Jakarta (Maret 1998-Juni 1998)
Dosen, Pasca Sarjana, di UI dan Unpad, 1993-2003
Komisaris di berbagai perusahaan, 2009-2013.

Staf Ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN bidang Komunikasi dan Pengembangan SDM/Asisten Kepala Badan Pembina BUMN Bidang Komunikasi dan Pengembangan SDM (Juni 1998-Februari 2000)
Tim mediasi perundingan pemerintah RI dan GAM di Helsinki, Finlandia, (2004-2005)
Menteri Komunikasi dan Informatika, 2004 – 2007
Menteri BUMN, 2007 – 2009.

Menteri Koordinator Ekonomi, 2014-2015
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas periode 2015-2016
Menteri Agraria dan Tata Ruang, 2016-Sekarang…….(#)

Menteri Sofyan: 2025 Semua Tanah Terdaftar ?

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil berjanji pada 2025 seluruh tanah akan terdaftar. Hal ini ia ungkapkan setelah pelantikan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara.

“Mudah-mudahan 2025 seluruh tanah di Indonesia terdaftar. Kita bikin digitalisasi pertanahan, mudah-mudahan nanti sudah berbasis elektronik, seperti kantor negara yang mulai maju,” kata Sofyan yang untuk kedua kalinya menjadi Menteri di posisi yang sama.

Menurut Sofyan dengan adanya digitalisasi maka sengketa tanah yang marak terjadi akan hilang.

“Semua orang yang ada tanah ini nanti akan menggunakan sistem keuangan modern,” ungkapnya. (**)

Tag              : Kementerian ATR/BPN
Penulis       : FS. Donggo
Editor         : FS. Donggo
Redaksi      : Media Stabilitas
Foto            : Kamal Jaya