admin August 18, 2020

ilustrasi: Anak Pendiri Sinarmas Berebut Harta Warisan (ist)

MEDIA STABILITAS.COM,- (JAKARTA)  –  Harta warisan, Eka Tjipta, si pendiri Sinarmas Group  jadi sengketa. Anaknya, Freddy menggugat hak waris. Warisan Pendiri Sinarmas, Eka Tjipta Jadi Sengketa di PN Jakpus

Sudah lebih dari setahun pendiri Sinarmas, Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia. Dirinya wafat di usianya yang ke-98. Setahun berlalu, nama Eka Tjipta Widjaja kini muncul di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Harta warisannya jadi sengketa.

Berdasarkan laman Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat mengutip dari Media Stabilitas, Selasa (14/07/2020) dengan menggandeng Yasrizal sebagai kuasa hukumnya, gugatan Freddy terdaftar pada 16 Juni 2020 dengan nomor perkara 301/Pdt.G/2020/PN Jkt.Pst.

Freddy menggugat hak waris kepada lima saudara tirinya, yakni Indra Widjaja alias Oei Pheng Lian, Teguh Ganda Widjaja alias Oei Tjie Goan, Muktar Widjaja alias Oei Siong Lian, Djafar Widjaja alias Oei Piak Lian, dan Franky Oesman Widjaja alias Oei Jong Nian.

Berikut daftar harta warisan yang tengah berusaha direbutnya, sebagaimana mengutip dari Media Stabilitas;

  1. aset PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMART senilai Rp29,31 triliun dengan laba kotor Rp4,63 triliun pada 2018.
  2. aset PT Sinar Mas Multi Artha sebesar Rp100,66 triliun dengan laba kotor Rp1,64 triliun.
  3. aset Sinar Mas Land sebesar US$7,75 miliar atau setara Rp116,36 triliun dengan asumsi kurs Rp15 ribu per dolar AS.
  4. aset PT Bank Sinar Mas Tbk sebesar Rp37,39 triliun per September 2019.
  5. aset PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk senilai US$8,75 miliar atau Rp131,26 triliun.
  6. PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk US$2,96 miliar atau Rp44,47 triliun.
  7. aset PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry sebesar US$1,99 miliar atau Rp29,96 triliun.
  8. aset PT Bank China Construction-Bank Indonesia Tbk sebesar Rp16,2 triliun.
  9. aset Asia Food and Properties Limited sebesar Rp80 triliun. Ke-10, aset China Renewable Energy Investment Limited senilai 2,79 miliar dolar Hong Kong atau setara Rp5,3 triliun dengan asumsi kurs Rp19 ribu per dolar Hong Kong.
  10. aset PT Golden Energy Mines Tbk US$780,64 juta atau setara Rp11,7 triliun. Ke-12, aset Paper Excellence BV Netherlands Rp70 triliun.

Kumparan mewartakan, gugatan terdaftar pada tanggal 16 Juni 2020 :

Menurut agenda, sidang pertama gugatan ini 29 Juni 2020. Tercatat pula agenda sidang tanggal 13 Juli 2020 dengan agenda memanggil panggil T-1 dan T-2.

Sekadar informasi, Eka Tjipta Widjaja dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia menurut Forbes.

Eka Tjipta merintis Sinarmas Group lebih dari 80 tahun, bermula dari kantor kecil yang didirikannya di Makassar.

Perusahannya telah bergerak di berbagai sektor bisnis, mulai properti, pulp dan kertas, perkebunan, industri pengolahan, hingga keuangan.

Aset Sinarmas Rp 737 Triliun, Anak Eka Tjipta Cuma Dapat Rp 1 Miliar ?

Freddy Widjaja, salah satu anak pendiri Sinar Mas Group Eka Tjipta Widjaja, mengajukan gugatan hak waris/wasiat atas kepada lima saudara tirinya atas harta warisan dari ayah mereka mendiang Eka Tjipta. Gugatan ini diajukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 16 Juni 2020.

Berdasarkan data situs Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Freddy menggugat hak waris/wasiat kepada saudara-saudara tirinya yakni Indra Widjaja alias Oei Pheng Lian, Teguh Ganda Widjaja alias Oei Tjie Goan, Muktar Widjaja alias Oei Siong Lian, Djafar Widjaja alias Oei Piak Lian dan Franky Oesman Widjaja alias Oei Jong Nian.

Freddy Widjaja, anak pendiri Sinarmas Group kembali mendaftarkan gugatan hak waris ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Didampingi kuasa hukumnya Fachmi Bachmid, Freddy menyebut bahwa gugatan hak waris kepada 6 orang pihak termasuk 5 orang saudara tirinya, telah resmi terdaftar pada 11 Agustus 2020, baru lalu.

“Satu orang adalah pelaksana wasiat almarhum tidak memiliki hubungan saudara yakni Elly Romsiah”, sebutnya di depan PN Jakarta Selatan, Rabu (12/08/20).

Freddy menegaskan sekaligus mengonfirmasi tuduhan pihak dari saudara tirinya, bahwa ia tidak melakukan gugatan untuk memperoleh aset senilai hingga Rp 300 triliun. Meski dirinya dinilai telah menerima hak waris senilai Rp 1 miliar.

“Saya tidak pernah menuntut Rp 300 triliun itu salah interpretasi yang betul adalah legitamifosi yang betul adalah 2/3 adalah milik anak-anak sah dan 1/3 nya milik kami jadi bukan setengah dari Rp 600 triliun. Saya meminta hak saya sesuai UU sesuai hukum yakni legitamifosi yang sudah ada di KUHP perdata”, tambahnya.

Dalam surat wasiat almarhum ayahnya, 34 orang penerima wasiat hanya mendapatkan uang sebesar Rp 1 miliar – Rp 2 miliar. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan jumlah aset Eka Tjipta Widjaja sebagi pendiri Sinarmas Group.

“Ayah saya pernah sebagai salah satu pendiri dari Sinarmas Group dan sudah memiliki aset-aset ada lebih dari yang pernah saya sampaikan yakni ada Rp 737 triliun dari 16 perusahaan. Belum yang sedang saya investigasi. Aset-aset itu bukan sembarang sebut semua itu berdasarkan yang bisa di cetak kepada publik laporan tahunannya”, jelasnya.

Dalam gugatan tersebut, pihaknya juga merinci ke-16 perusahaan di bawah Sinarmas Group yang berada di Indonesia maupun di luar negeri, sebagai bagian dari harta peninggalan almarhum Eka Tjipta Widjaja.

“Wasiat dilaksanakan tanpa adanya perincian atas harta peninggalan almarhum. Lalu adanya surat wasiat sisa uang/harta peninggalan yang hanya diserahkan kepada Teguh Ganda Widjaja, Indra Widjaja, Muktar Widjaja, Djafar Widjaja dan Frank Oesman Widjaja sebagai tergugat I hingga V”, sebut Freddy.

Sebelumnya, pada 3 Agustus lalu, pihak Freddy Widjaja selaku penggugat menyatakan melakukan pencabutan gugatan atas saudara-saudara tirinya.

Gugatan ini diajukan di PN Jakarta Pusat pada 16 Juni 2020. Gugatan ini didaftarkan atas nama kuasa hukum Freddy yakni Yasrizal dengan Nomor Perkara 301/Pdt.G/2020 di PN Jakarta Pusat.

Namun pada Senin 3 Agustus pekan lalu, Yasrizal, kuasa hukum Freddy mengajukan permohonan pencabutan gugatan hak waris ke majelis PN Jakarta Pusat.  (@)

Penulis       : Andi Priatna/Salahudin Ramli.  
Editor          : FS. Donggo.
Foto             : Kamal Jaya..
Redaksi       : Media Stabilitas.