admin March 17, 2021

Terlihat keakraban antara Soekarno vs Soeharto tanpa ada kecurigaan diantara mereka. (Ist)

MEDIA STABILITAS.COM,- (JAKARTA 17/03/2021 ) – Hari ini, 11 Maret, tepat 55 tahun silam, Soeharto kudeta Soekarno, sikat PKI hingga Supersemar yang penuh kontroversi.

Misteri Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar terus menjadi kontroversi, lantaran surat tersebut jadi akhir kekuasaan Soekarno.

Bersamaan dengan itu, Supersemar juga menandakan cikal bakal lahirnya Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto.

Peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto bermula dari terbutnya Supersemar.

Saat itu Soekarno “dikabarkan” memberi mandat kepada Soeharto untuk memulihkan stabilitas politik nasional yang goyah akibat Gerakan 30 September 1965.

Kata “dikabarkan” sebenarnya untuk menunjukkan mengenai polemik yang terjadi seputar Supersemar.

Tak sedikit yang meragukan adanya pemberian mandat dari Soekarno ke Soeharto itu.

Apalagi, hingga saat ini naskah asli Supersemar masih menjadi misteri.

Disebut-sebut Supersemar seolah menjadi tiket bagi Soeharto untuk melancarkan kudeta terhadap kepemimpinan Soekarno.

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan, Supersemar merupakan salah satu rangkaian dari peristiwa panjang untuk melemahkan kekuasaan Soekarno.

Setelah menerima Supersemar, Soeharto gerak cepat.

Sehari setelahnya, Soeharto langsung membubarkan Partai Komunis Indonesia ( PKI).

Selain itu, Soeharto juga menangkap belasan menteri loyalis Soekarno.

Alhasil perlahan kekuasaan Soekarno surut.

Ada tiga kontroversi yang muncul jika membicarakan Supersemar.

Pertama, menyangkut keberadaan naskah otentik Supersemar.

Kedua, proses mendapatkan surat itu.

Ketiga, interpretasi yang dilakukan oleh Soeharto.

Dalam diskusi bulanan Penulis Buku Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah Selatan, Kamis (10/3/2016), Asvi mengatakan, keberadaan naskah otentik Supersemar hingga kini belum diketahui.

Kendati lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan tiga versi naskah Supersemar, namun ketiganya tidak autentik.

“Ada tiga arsip naskah Supersemar, dari Sekretariat Negara, Puspen TNI AD, dan dari seorang kiai di Jawa Timur,” ujar Asvi.

Kontroversi berikutnya, Supersemar diberikan bukan atas kemauan Soekarno, melainkan di bawah tekanan.

Menurut Asvi, sebelum 11 Maret 1966, Soekarno didatangi oleh dua pengusaha utusan Mayjen Alamsjah Ratu Prawiranegara.

Kedua pengusaha itu, Hasjim Ning dan Dasaad, datang untuk membujuk Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto.

Akan tetapi, Soekarno menolak, bahkan sempat marah dan melempar asbak.

“Dari situ terlihat ada usaha untuk membujuk dan menekan Soekarno telah dilakukan, kemudian diikuti dengan pengiriman tiga jenderal ke Istana Bogor,” ungkap Asvi.

Setelah Supersemar dibuat oleh Soekarno, Soeharto menggunakannya dengan serta-merta untuk melakukan aksi beruntun sepanjang Maret 1966.

Soeharto membubarkan PKI, menangkap 15 menteri pendukung Soekarno, memulangkan anggota Tjakrabirawa dan mengontrol media massa di bawah Puspen AD.

Sementara bagi Soekarno, surat itu adalah perintah pengendalian keamanan, termasuk keamanan dirinya selaku Presiden dan keluarganya.

Soekarno pun pernah menekankan, surat itu bukanlah transfer of authority.

Namun, Amirmachmud, jenderal yang membawa surat perintah dari Bogor ke Jakarta pada 11 Maret 1966, langsung berkesimpulan bahwa itu adalah pengalihan kekuasaan.

Lahirnya Supersemar

Setelah keberadaan pasukan liar yang menyamar di antara mahasiswa diketahui, Presiden Soekarno meninggalkan Jakarta menuju ke Istana Bogor menggunakan helikopter.

Tiga jenderal AD, yakni Brigen Amir Mahmud, Brigjen M Yusuf, dan Mayjen Basuki Rahmat, menghadap Presiden Soeharto di kediamannya dan menceritakan soal situasi terakhir.

Berdasarkan hasil pertemuan itu, Soeharto mengatakan kepada tiga Jenderal itu bahwa dirinya bersedia mengatasi keadaan jika sudah ada surat perintah resmi.

Tiga jenderal itu pun mendapat tugas untuk segera mendapatkan surat mandat dari Soekarno yang kemudian dikenal sebagai Supersemar ( Surat Perintah Sebelas Maret).

Supersemar ditandatangani Presiden Soekarno di hadapan tiga jenderal itu disaksikan oleh seorang ajudannya, Soekardjo Wilardjito.

Banyak versi menyebutkan situasi saat penandatanganan itu terjadi.

Ada yang mengatakan, Soekarno mendapat tekanan hingga ditodongkan senjata.

Versi ini kemudian dibantah oleh keluarga Soeharto.

Supersemar yang menjadi surat mandat kepada Soeharto itu kemudian dimaknai sebagai tiket untuk membubarkan langsung PKI tanpa persetujuan Soekarno, penangkapan sejumlah menteri, hingga penangkapan orang-orang yang dicurigai terkait PKI.

Surat itu kemudian juga dimaknai sebagai peralihan kekuasaan eksekutif dari Soekarno kepada Soeharto.

Soekarno pun berang dan menyindir aksi Soeharto itu.

Meski Soekarno marah melihat aksi yang dilakukan Soeharto, tetap saja Soekarno tak bisa lagi melawan karena seluruh kekuatan politiknya saat itu sudah dipereteli.

“Dari satu kalimat ‘mengambil suatu tindakan yang dianggap perlu’, mungkin blunder yang dilakukan Bung Karno, oleh seorang sipil, dengan perintah yang tidak jelas pada seorang tentara,” ujar sejarawan Asvi Warman Adam.

Melalui Supersemar itu pula, Soeharto akhirnya berkuasa menjadi Presiden kedua RI hingga 32 tahun lamanya.

Sementara masa tua Soekarno dihabiskan menjadi tahanan rumah yang harus mendapat bantuan pihak luar untuk biaya berobatnya.

OLEH: Fathullah S. Donggo.