admin March 26, 2018

Foto Kepala Divisi Humas Mabes Polri Setyo Wasisto datang ke rumah duka AM Fatwa di Jalan Condet, Pejaten, Jakarta Selatan, 14 Desember 2017,lalu. (ist)

JAKARTA, (Harian Stabilitas.Com) > Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto mengingatkan mengunggah atau menyebarkan berita palsu di sosial media dapat menjadi kasus tersendiri, yakni pelanggaran terhadap Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta pelakunya bisa terkena hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. “Pikir dulu, baru sharing. Jangan sharing dulu, baru pikir,” tuturnya.


(Kasatgas) Pangan Polri  yang juga Kepala Divisi Humas Mabes Polri menegaskan terkait telur palsu sebagaimana yang sempat beredar melalui video viral di media sosial. Keberadaan telur yang dianggap sebagai telur palsu ini telah diuji di beberapa wilayah, salah satunya Sumbawa. Tidak ada namanya telur palsu,” kata Setyo saat ditemui di gedung Humas Polri, Jakarta, Jumat, pekan lalu.


Beberapa jenis telur memang akan terlihat lebih cair atau terdapat bakteri di dalamnya saat disimpan terlalu lama. Terlebih, jika ada keretakan di cangkang telurnya, bakteri atau jamur akan lebih mudah masuk. Namun keberadaan telur palsu tidak dimungkinkan. Pasalnya, secara harga saja, pembuatan telur palsu bisa lebih tinggi dari telur asli, jelasnya.


Sebelumnya, terdapat video seorang perempuan berbaju merah, yang menjelaskan keberadaan telur palsu. Ia menyebutkan ciri-cirinya, antara lain cangkangnya cenderung lebih keras, teksturnya seperti jeli sehingga tidak mudah terhambur, serta kuning dan putihnya tidak menyatu.


Setyo mengatakan penyebaran konten palsu ini berdampak secara luas, terutama kepada para penjual dan peternak. Selain itu, kata dia, konsumen menjadi ikut ragu-ragu untuk mengkonsumsi telur.”Kalau ragu-ragu (apakah suatu barang palsu atau tidak), silakan lapor ke dinas terkait atau polisi,” katanya. (Red*Harian Stabilitas.Com)