admin April 4, 2018

JAKARTA, (Harian Stabilitas.Com) – Kasus Wajah Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 usai menunaikan salat subuh di masjid dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Akibat siraman itu, mata kiri Novel menjadi bagian tubuh yang paling rusak dan masih menjalani pengobatan hingga saat ini.


Kasus tersebut hingga kini masih jalan di tempat. Polisi belum bisa mengungkap siapa pelaku penyerangan tersebut. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pun sudah membentuk Tim Pemantau bagi kasus Novel. 


Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya, Inspektur Jenderal Idham Azis, telah melaporkan perkembangan penyidikan kasus serangan teror air keras terhadap penyidik professional Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, ke jajaran pemimpin KPK belum lama ini. Wakapolri Menjelaskan


Demikian diinformasikan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri), Komisaris Jenderal Syafruddin, saat ditemui di Kantor Dewan Masjid Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Senin (2/4/2018), kemarin.


“Dia sudah laporkan, tentu ada hal yang perlu dirahasiakan dan ada yang dibuka, ada yang dirahasiakan,” ucap Syafruddin.


Syafruddin pun menyatakan penyidikan kasus yang terjadi pada 11 April 2017 silam itu masih terus berjalan hingga saat ini. Namun, jenderal bintang tiga itu menolak membeberkan perkembangan terbaru penyidikan kasus Novel yang dilaporkan Idham ke pimpinan KPK.


Ombudsman Perikasa Administrasi Kasus Novel


Pada tanggapan lain terhadap kasus Novel datang dari Komisioner Ombudsman Adrianus Meliala mengatakan bakal memeriksa dugaan malaadministrasi yang dilakukan polisi dalam menyelidiki kasus penyerangan terhadap Novel.


“Kami berangkat dari satu dugaan bahwa polisi melakukan beberapa malaadministrasi, menunda, tidak profesional, membiarkan, tidak kompeten. Kami cek benar enggak hal itu,” kata Adrianus pekan lalu.


Adrianus menerangkan pihaknya akan mengklarifikasi hal tersebut kepada penyidik Polri yang menangani kasus Novel. Adrianus juga mengatakan pihaknya akan menanyakan kepada penyidik KPK terkait keterbukaan KPK terhadap kasus Novel.


“Apa yang bisa dibantu agar bisa mengungkap. Jangan kalau tidak ada lalu kerja Anda apa, dukungan Polri kepada KPK, tuh, apa sih,” ujarnya.


Menanggapi pernyataan Ombudsman itu, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti mengatakan dari tiga kali gelar perkara kasus penyiraman air keras terhadap Novel, pihaknya menilai kepolisian sudah bekerja sesuai ketentuan investigasi.


“Kami sebagai pengawas fungsional Polri telah tiga kali melakukan gelar perkara kasus ini dengan tim penyidik dan melihat bahwa Polri telah bekerja sesuai dengan scientific criminal investigation,” paparnya.


LSM KAKI Menyoroti Sikap Kapolri


Luar biasa, anak Kapolrestabes Bandung Dibacok, Kapolri Marahi Kapolda Metro dan kenapa Kapolri Bisa Marahi Kapolda Soal Anak Polisi Di Bacok, Tapi Tak bisa Marahi anak buahnya yang tak mampu Pengusutan Soal Novel yang hingga kini belum ada tanda-tanda pengungkapannya. Hal ini diungkapkan Direktur divisi dan pencegahan LSM Komite Anti Korupsi Indonesia (LSM KAKI-PUSAT), Fathullah,S.Donggo, ketika di Tanya tanggapannya terkait kasus Novel Baswedan dan juga atas sikap kepolisian yang di nilai belum mampu mengungkap pelakunya sampai saat ini. 


“Terkait pernyataan Kapolri yang menyoroti dengan terjadinya kasus pembacokan yang dialami Reynaldi Kusheriyadi (20thn), anak Kapolrestabes Bandung Kombes Hendro Pandowo, kapolri sampai memarahi Kapolda Metro Jaya di nilai belum mampu mengungkapnya, sementara kasus penyiraman air keras terhadap Novel tidak ia marahi anak buah (Kapolda Metro jaya,red),”tandasnya Fathullah seraya menyidir ungkapan Kapolri itu yang di nilai diskriminasi.


“ Jadi, tambahnya Fathullah, Kapolri sepantasnya harus terus mendesak kapolda bersama jajarannya lebih serius menyusut tuntas kasus Novel tersebut, bukan sebaliknya memberikan angin dingin terhadap bawahannya, termasuk kasus Novel adalah kasus sangat serius yang wajib ditangkap pelakunya secara sungguh-sungguh,”tambahnya.


“ Pertanyaan yang sangat krusial oleh public sampai saat ini adalah dugaan keterlibatan seorang Jenderal Polisi sebagai dalang kasus Novel, apakah indikasi tersebut sehingga polisi dalam hal ini Kapolri sebagai penanggungjawab merasa keberatan akan terbongkar bobroknya?, sehingga enggan dan tidak serius untuk diungkapkan, sebenarnya tidak seperti itu bila ada niat kurang sehat dalam tubuh polri terutama menangani kasus Novel”, kilahnya Fathullah, yang juga Owner Media Stabilitas Group.


Kapolri Geram Sama Kapolda Metro Jaya

Peristiwa dialami Reynaldi Kusheriyadi diduga pembegalan terjadi pada Minggu (11/3/2018), lalu, pada pukul 03.00 WIB di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Korban saat itu dibonceng dan baru pulang dari rumah temannya dengan luka bacok dipinggangnya.


“ Tapi saya prihatin juga, begal yang korbannya putra Pak Hendro belum terungkap juga. Saya juga sudah cerewetin kepada Kapolda Metro Jaya dan saya marah-marah terus sama Kapolda,” beber Tito. 


Sementara sikap Kapolri Jenderal Tito Karnavian memarahi dan geram dengan Polda Metro Jaya sampai Kapolres Jakarta Selatan pun tak luput di maeahi yang belum mengungkap kasus pembacokan yang dialami Reynaldi Kusheriyadi (20), anak Kapolrestabes Bandung Kombes Hendro Pandowo. Bahkan, Tito mengaku memarahi Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis berkaitan kasus tersebut.


Hal itu diungkapkan Tito saat berpidato dalam kegiatan penandatanganan kerja sama pembangunan zona integritas antara Polri dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (3/4/2018),baru lalu.


Tito awalnya berbicara soal pemeliharaan kamtibmas yang termasuk dalam program Profesional, Modern dan Terpercaya (Promoter) yang dipamerkan di hadapan Menpan RB Asman Abnur. Tito lalu mengapresiasi tindakan Polrestabes Bandung di bawah pimpinan Kombes Hendro Pandowo yang kerap menindak begal. Menurut Tito, begal merupakan salah satu unsur yang dapat meresahkan masyarakat dan mengganggu situasi kamtibmas.  


Namun dibalik pernyataan Kapolri tentang gangguan Kamtibmas sangat meresahkan masyarakat, tapi kenapa kasus novel tidak mengganggu masyarakat?, justru lebih berbahaya dan paling dasyat merusak sesorang seperti novel yang mampu memberantas para koruptor yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, sementara kasus seorang anak polisi kena luka begitu saja, sampai-sampai begitu marahnya kapolri sama bawahannya, ada apa sebenarnya kapolri tidak serius mengungkapnya?, paparnya Fathullah menambahkan. (Tim Red*Harian Stabilitas/Albero)