admin June 24, 2020

 Ilustrasi: Kelima tersangka Asuransi Jiwasraya. (ist)

MEDIA STABILITAS.COM,- (JAKARTA) ~ Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan lima tersangka kasus Jiwasraya. Kelimanya kini telah ditahan. Kelima orang itu adalah, Komisaris Utama PT Hanson International Benny Tjokrosaputro, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram) Heru Hidayat, dan mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo. Juga mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim dan eks Kepala Divisi Investasi dan Keuangan pada PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan.

“Penahanan lima tersangka sejak hari ini, 20 hari ke depan,” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Adi Toegarisman di Kejagung, Selasa (14/1/2020). Dia mengatakan, penahanan 5 tersangka dipisah.

Ada yang di Rutan Salemba Kejaksaan Agung, KPK, Guntur, Cipinang dan kemudian di Salemba cabang Jakarta Selatan , yaitu :

  1. Benny Tjokrosaputro ditahan di Rutan KPK
  2. Heru Hidayat ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung
  3. Hary Prasetyo ditahan di Rutan Salemba cabang Kejari Jakarta Selatan
  4. Syahmirwan ditahan di Rutan Cipinang
  5. Hendrisman Rahim ditahan di rutan Guntur Pomdam Jaya .

Sebelumnya, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin telah mengeluarkan surat perintah penyidikan kasus Jiwasraya dengan Nomor: PRINT – 33/F.2/Fd.2/12/ 2019 tertanggal 17 Desember 2019. PT Asuransi Jiwasraya (Persero) telah banyak melakukan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan tinggi, di antaranya penempatan saham sebanyak 22,4 persen senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial.

Dari jumlah tersebut, 5 persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik, sisanya 95 persen dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk. Akibatnya, PT Asuransi Jiwasraya hingga Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara sebesar Rp13,7 triliun.

13 Manajer Investasi Terseret Skandal Jiwasraya Jadi Tersangka?

Sebut saja ada 13  manajer investasi (MI) Terlibat Kasus Jiwasraya, Ini Penjelasan Kejaksaan dan Presiden RI Jokowi Widodo terkait skandal kasus Asuransi Jiwaasraya. “ Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara soal kasus besar yang dihadapi oleh BUMN asuransi, yaitu PT Asuransi Jiwasrya (Persero). Jiwasraya mengalami gagal bayar polis nasabahnya yang jatuh tempo, nilainya mencapai Rp 12,4 triliun”. Demikian ditegaskan Presiden Jokowi.

Skandal di perusahaan asuransi pelat merah, PT Asuransi Jiwasraya (Persero), perlahan tapi pasti mulai terkuak. Setelah menemukan dugaan adanya tindak pidana korupsi, Kejaksaan Agung menemukan fakta lain Jiwasraya melakukan investasi di 13 manajer investasi (MI) yang mengelola reksa dana.

Kejagung pun sudah menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) dengan nomor 33/FII/FD2/12/2019 pada 17 Desember 2019. Jaksa Agung Sinatiar Burhanuddin mengatakan penyidikan tersebut dilakukan untuk memperoleh fakta adanya kegiatan investasi di 13 perusahaan yang melanggar tata kelola perusahaan yang baik , atau Good Corporate Governance (GCG).

Skandal di perusahaan asuransi pelat merah, PT Asuransi Jiwasraya (Persero), perlahan tapi pasti mulai terkuak. Setelah menemukan dugaan adanya tindak pidana korupsi, Kejaksaan Agung menemukan fakta lain Jiwasraya melakukan investasi di 13 perusahaan manajer investasi (MI) yang mengelola reksa dana.


Menurut Burhanuddin, Jiwasraya diduga melakukan pelanggaran prinsip kehati-hatian karena berinvestasi di aset finansial dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan tinggi. Keuntungan tersebut dijanjikan kepada nasabah produk asuransi JS Saving Plan yang merupakan produk bancassurance.

Asuransi Jiwa Berkinerja Buruk?

Pertama, adalah penempatan saham 22,4% senilai Rp 5,7 triliun dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, 2% di saham dengan kinerja baik dan 95% dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk.

Jiwasraya juga menempatkan investasi di aset reksa dana sebesar 59,1% senilai Rp 14,9 triliun dari aset finansial. “Dari jumlah tersebut 2% dikelola oleh perusahaan manajer investasi [MI] Indonesia dengan kinerja baik dan sebanyak 95% dikelola oleh MI dengan kinerja buruk,” ungkap Burhanuddin, dalam konferensi pers di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (18/12/2019) baru lalu.

Akibat dari investasi tersebut, Jiwasraya sampai dengan bulan Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara Rp 13,7 triliun. “Hal itu perkiraan awal dan diduga ini akan lebih dari itu,” terangnya. Dia juga belum mengungkapkan 13 perusahaan pengelola reksa dana yang dimaksud.

Dalam kesempatan yang sama, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Adi Toegarisman menyatakan, penyidikan terkait kasus Jiwasraya sudah ditangani sejak Juni 2019 oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Namun, karena pertimbangan kasus besar, kasus itu diserahkan kepada Kejagung.

“Kami sudah susun tim sebanyak 16 orang, jadi anggota 12 orang. pimpinan timnya ada empat level. Pertimbangannya ini kasus besar dengan cakupan wilayah yang cukup luas,” kata dia.

Saat ini, menurut Adi, Kejagung sedang berupaya mengumpulkan bukti-bukti dan bekerja sama dengan lembaga terkait termasuk memanggil 89 saksi yang dianggap kompeten.”Pasalnya apa masih proses. Yang penting kaus ini sedang kami tangani sekarang ada di tahap penyidikan,” kata Adi.

Tak hanya itu, Kejagung juga tak akan segan untuk melakukan pencekalan sebagaimana usulan DPR RI terhadap manajemen lama Jiwasraya bila terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan melarikan diri ke luar negeri.

“Kami buru, kami tangkap. Masa kita diamkan,” tegasnya. Pencekalan merupakan salah satu kesimpulan rapat antara Komisi VI DPR RI dan manajemen Jiwasraya di ruang rapat Komisi VI DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Anggota Komisi VI DPR RI Daeng Muhammad menyebut kasus gagal bayar Jiwasraya dalam klaim polis merupakan akibat kebijakan salah yang terstruktur. Daeng yakin kasus tersebut melibatkan pejabat perusahaan hingga ke tingkat tertinggi.

“Jadi ada design produk yang dijual, yang di luar kebiasaan asuransi, dan saya pikir keputusan yang dilakukan perusahaan enggak ujug-ujug. Bahasa saya enggak tiba-tiba. Tapi betul-betul lewat pertimbangan rapat direksi dan rapat komisaris. Saya yakin betul,” kata Daeng.

Sejak awal mula produk diluncurkan, Daeng sudah curiga bahwa produk yang diluncurkan tidak sehat.

“Ada produk yang dijual melalui sembilan bank. Sebanyak dua bank BUMN juga produk ini menjanjikan sesuatu yang plus-plus, bahasa saya. Yang di luar kebiasaan jualan asuransi,” katanya.

LAPORAN KEUANGAN BURUK?

“Saya ingin Komisi VI bersepakat nanti, akan memperdalam ini sebagai rekomendasi, bukan hanya penyelesaian penyelamatan terhadap uang nasabah, tapi juga bagaimana rekomendasi terhadap pelaku-pelaku yang diduga melakukan kejahatan di Jiwasraya,” lanjut Daeng.

Mengacu laporan keuangan selama 3 tahun terakhir, saham dan reksa dana masuk porsi investasi cukup besar.

Pada Desember 2017 nilai investasi saham mencapai Rp 6,63 triliun, kemudian nilainya turun drastis di Desember 2018 menjadi Rp 3,77 triliun serta ambles lagi menjadi di Rp 2,48 triliun di pencatatan September 2019.

Penurunan lebih parah terjadi pada reksa dana. Pada Desember 2017 nilai reksa dana mencapai Rp 19,17 triliun, kemudian turun di Desember 2018 menjadi Rp 16,32 triliun serta penurunan paling tajam terjadi di pencatatan September 2019 menjadi Rp 6,64 triliun. 

Skandal Jiwasraya: 27 Orang Diperiksa Kejagung, 13 Dicekal!

Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan hingga Kamis kemarin (9/1/2020) sudah memeriksa total 27 saksi kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Dua saksi tercatat tak menghadiri agenda pemeriksaan dan akan diagendakan kembali di waktu yang belum ditentukan.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejagung M. Adi Toegarisman mengatakan pemeriksaan saksi di pekan ini sudah rampung. Tim penyidik masih akan terus memetakan kebutuhan kasus ini untuk melihat kembali apakah masih perlu dilakukan pemanggilan saksi-saksi.

“Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ini kan hari Kamis. Tentu temen-temen tim hari Jumat akan meneliti kembali, nanti kan menentukan kembali minggu depan apa yang akan dipanggil,” kata Adi ke Kejagung. Menurut Media Stabilitas Group, secara total hingga hari ini sudah terdapat 27 saksi yang menyambangi Kejagung untuk memberikan kesaksiannya terkait dengan kasus Jiwasraya ini.

Saksi tersebut antara lain:

  1. Direktur Utama PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. (TRIM/LG), Stephanus Turangan
  2. Direktur Utama PT Prospera Asset Management, Yosep Chandra
  3. Kepala Pusat Bancassurance PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Eldin Rizal Nasution
  4. Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM), Heru Hidayat
  5. Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2018-2019, Asmawi Syam
  6. Direktur Utama PT Hanson International Tbk. (MYRX), Benny Tjokrosaputro
  7. Mantan Agen Bancassurance PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Getta Leonardo Arisanto
  8. Mantan Agen Bancassurance PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Bambang Harsono
  9. Mantan Kepala Pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Dwi Laksito
  10. Kepala Divisi Penjualan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Erfan Ramsis
  11. Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Riswinandi sebagai saksi ahli
  12. Kepala Divisi Pertanggungan Perorangan dan Kumpulan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Budi Nugraha
  13. Kepala Divisi Keagenan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Handi Surya
  14. Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2015-2018, Sumarsono
  15. Kepala Divisi Pemasaran PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Ida Bagus Adinugraha
  16. Kepala Divisi Hukum PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2015-2018, Ronang Andrianto
  17. Mantan General Manager Teknik PT Asuransi Jiwasraya (Persero), I Putu Sutama
  18. Wakil Kepala Pusat Bancassurance & Aliansi Strategis PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2015-2019, Yahya Partisian Huae
  19. Kepala Bagian Keuangan Bancassurance & Aliansi Strategis PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2015-2019
  20. Kepala Bagian Pertanggungjawaban Bancassurance & Aliansi Strategis PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2015-2018
  21. Kepala Divisi Wealth Management PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), Bambang Wicaksono
  22. Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2008-2018, Hendrisman Rahim
  23. Mantan Direktur Pemasaran PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2008-2018, De Yong Adrian
  24. Mantan Direktur SDM & Kepatuhan PT Asuransi Jiwasraya periode 2016-2018, Muhammad Zamkhani
  25. Bancassurance Sales Manager PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Bambang Harsono
  26. Mantan Kepala Divisi Sumber Daya Manusia PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2015-2018, Udhi Prasetyanto
  27. Mantan Kepala Divisi Sumber Daya Manusia periode 2018-2019, Novi Rahmi

Foto: M. Adi Toegarisman, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung (Foto/dok)

Sementara itu, tercatat dua saksi yang mangkir dari pemanggilan Kejagung yakni Direksi PT Pool Advista Asset Management dan mantan Komisaris Utama JIwasraya periode 2009-2014 dan 2014-2019, Djonny Wiguna.

Selain itu, baru-baru ini Kejagung juga melakukan pencekalan untuk bepergian ke luar negeri atas tiga nama baru, sehingga total sudah 13 orang yang dicekal hingga saat ini. Namun tiga nama tersebut belum diungkapkan Kejagung.

“Ada tambahan yang dicekal tiga orang lagi dari pihak swasta dan Jiwasraya, baru kemarin. Total sudah 13 orang yang sudah kami cekal selama 6 bulan ke depan,” kata Febrie Adriansyah, Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus Kejagung.

Benny Tjokro Masuk 50 orang terkaya Indonesia, terseret skandal BUMN

Nama Benny Tjokrosaputra menjadi perbincangan hangat dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, skandal di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) menyeret namanya.

Siapakah Benny Tjokro? Dia merupakan Direktur Utama PT Hanson International. Namanya beberapa kali dikaitkan dengan masalah yang saat ini membelit Jiwasraya dan Asabri. Ini lantaran dua BUMN asuransi tersebut menempatkan dana investasi besar di perusahaan propertinya.

Majalah Forbes tahun lalu memasukkan Benny Tjokro dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2018. Cucu dari Kasom Tjokrosaputro, sang pendiri grup usaha Batik Keris, ini berada di urutan ke-43. Forbes menaksir kekayaan pria yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Mei 1969, ini mencapai US$ 670 juta atau sekitar Rp 9,18 triliun (kurs Rp 13.707 per dollar AS).

Poin Nota Pembelaan Benny Tjokro dan 3 Terdakwa Jiwasraya

Terdakwa Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro dan Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk Heru Hidayat (kanan) meninggalkan gedung KPK seusai menjalani pemeriksaan, di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2020. Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat merupakan tahanan Kejaksaan Agung yang dititipkan penahanannya di KPK. TEMPO/Imam Sukamto

Sementara itu, Empat terdakwa kasus dugaan korupsi Jiwasraya menjalani sidang dengan agenda pembacaan nota pembelaan. Mereka meminta Majelis Hakim agar membatalkan surat dakwaan. Sebab, mereka menilai jika dakwaan yang diterima tidak jelas dan kabur.

Berikut rangkuman dari masing-masing nota pembelaan keempat terdakwa:

1. Benny Tjrokrosaputro

Saat membacakan nota pembelaannya, Benny Tjokro, merasa banyak hal yang salah dalam surat dakwaan. Salah satunya ihwal penyitaan dan pemblokiran.

“Ada kesalahan dalam penyitaan aset dan pemblokiran rekening bank milik masyarakat dalam perkara ini, termasuk kesalahan penyitaan aset dan pemblokoran rekening bank dan perusahaan saya oleh Kejaksaan Agung,” kata Benny.

Ia menilai, Kejaksaan Agung tidak hati-hati dan tidak teliti dalam melakukan penyitaan dan pemblokiran rekening-rekening bank dari pihak ketiga. Apalagi, kata dia, salah satu nasabah, yakni PT Wanna Artha Life, tengah menggugat Kejaksaan Agung lantaran kesalahan tersebut.

Benny menuturkan, dakwaan yang dialamatkan kepadanya terjadi pada 2008-2018, akan tetapi aset dan rekening yang disita adalah kepemilikan sebelum 2008. “Bahkan aset tanah yang saya peroleh pada 1990-an ikut disita Kejaksaan Agung,” kata dia.

Selain persoalan aset, Benny mengklaim telah melunasi utang PT Hanson Internasional kepada Jiwasraya dalam penerbitan surat utang medium term notes 2016. “Ketiga, Jiwasraya sudah rugi sejak 2006, jangan saya yang dikorbankan menanggung kerugian,” ucap dia.

Kemudian, Benny juga melihat adanya kejanggalan dalam hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Terakhir, ia merasa banyak keterangan yang aneh di dalam surat dakwaan, yang merugikannya.

Lulus dari Trisakti, Benny Tjokro langsung terjun langsung dalam aktivitas investasi, baik di pasar modal maupun pasar uang. Bermain di pasar saham bahkan sudah dilakukannya sebelum lulus kuliah dengan menyisihkan sebagian uang sakunya.

Dikutip dari Bloomberg, selain menjabat sebagai CEO PT Hanson International Tbk, dirinya juga menjabat sebagai direksi di PT Sinergi Megah Internusa Tbk dan PT Suba Indah Tbk. Benny Tjokro juga didapuk menjadi komisaris utama di PT Armidian Karyatama Tbk.

Gonta-ganti bisnis

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Hanson merupakan perusahaan properti. Bisnisnya juga masuk ke ranah pertambangan, khususnya batu bara. Perusahaan ini berdiri pada 1971 dengan usaha tekstil. Kendati demikian, pada tahun 2008, perusahaan mengumumkan banting setir dengan fokus menggarap bisnis tambang. Alasannya, usaha tekstil tengah lesu, sementara saat itu bersamaan dengan masa booming harga komoditas batu bara. (@)

>Penulis  :   Salahudin Ramli/Kamal Jaya.
>Editor    :   FS. Donggo.
>Redaksi :   Media Stabilitas Group.