admin March 14, 2021

Mantan (alm) presiden soeharto, (ist)

MEDIA STABILITAS.COM,- (JAKARTA 14/03/2021 ) – Usia Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) sudah 55 tahun, namun misteri masih menyelubungi surat itu. Simak lagi penjelasan Presiden ke-2 RI Soeharto semasa hidup soal Supersemar.

Supersemar adalah surat berisi perintah dari Presiden Sukarno kepada Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk mengembalikan kondisi keamanan dan ketenangan, juga menjamin keselamatan Presiden.

Kondisi keamanan dan ketenangan pada era ’60-an kala itu memang sedang genting. Baru saja ada peristiwa berdarah Gerakan 30 September, PKI menjadi musuh bersama. Soeharto, yang menjabat sebagai Pangkopkamtib dan Panglima Angkatan Darat (Pangad), ingin membubarkan partai politik itu.

Supersemar terbit di pengujung pemerintahan Presiden Sukarno. Setahun kemudian, Soeharto menjadi Presiden. Sekarang, tepat 55 tahun setelah Supersemar terbit, naskah aslinya belum ketemu alias masih misterius.

Penjelasan Soeharto semasa hidup soal Supersemar dimuat dalam video yang diunggah kanal YouTube HM Soeharto, kanal resmi video-video tentang Soeharto, dari situs www.soeharto.co. Founder situs tersebut, Abdul Rohman, mengizinkan detikcom untuk mengutip video ini.

Video tersebut berjudul ‘Pak Harto Beberkan Detik-detik Lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret’, diunggah kanal HM Soeharto pada 12 Maret 2020. Video ini merupakan rekaman penjelasan Soeharto pada 6 Februari 1994.

Soeharto tampak santai dan banyak senyum ketika menjelaskan soal Supersemar. Berikut penjelasan Soeharto :

11 Maret 1966, Soeharto sakit tenggorokan

Pada 11 Maret 1966, ada sidang kabinet yang dipimpin oleh Presiden Sukarno di Istana Kepresidenan Jakarta. Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat tidak bisa hadir karena sedang sakit.

“Saya kebetulan nggak hadir waktu itu, sedang kumat sakit tenggorokan, biasanya kalau kumat terus panas, sampai tahapan tiduran saja, sehingga saya tidak mengetahui,” kata Soeharto dalam video itu.

Usai rapat, Sukarno balik ke Istana Bogor naik helikopter. Tiga perwira tinggi Angkatan Darat (AD), yakni Brigjen M Jusuf, Brigjen Basuki Rahmat, dan Panglima Kodam Jaya Brigjen Amirmachmud yang baru saja ikut rapat kemudian menuju ke kediaman Soeharto untuk laporan. Tiga perwira tinggi itu pamit ke Soeharto supaya diizinkan menemani Sukarno di Istana Bogor. Kepada tiga orang ini, Soeharto titip pesan untuk Sukarno.

“Pesan saya begini saja, sampaikan bahwa saya ini sakit, betul-betul sakit. Sampaikan salam dan hormat saya. Yang ketiga, sampaikan saja kalau saya diberi kepercayaan, keadaan ini akan saya atasi,” kata Soeharto.

‘Keadaan ini’ yang dimaksud Soeharto adalah kondisi sosial-politik dan keamanan di Indonesia pasca-G30S/PKI.

Presiden Sukarno bersama Jenderal Soeharto (Foto: Perpustakaan Nasional/Yayasan Idayu)

Supersemar dibikin

M Jusuf, Basuki Rahmat, dan Amir Machmud bertemu Sukarno di Istana Bogor. Mereka meminta Sukarno menyiapkan surat yang bisa menjadi legitimasi pemberian kepercayaan ke Soeharto untuk mengatasi kondisi bangsa.

“Entah itu sudah kehendak daripada Tuhan, perintah itu kan memang, ‘Memberiken wewenang kepada saya untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk menyelamatkan revolusi, dan sebagainya.’,” kata Soeharto.

Supersemar sekali pakai: pembubaran PKI

Soeharto mengaku cuma sekali saja menggunakan Supersemar itu. Satu-satunya momen politik penggunaan Supersemar, kata Soeharto, adalah pembubaran PKI.

“Ya hanya satu kali itu saja saya gunaken daripada Surat Perintah Sebelas Maret itu, walaupun kemudian Surat Perintah Sebelas Maret dikukuhkan oleh MPRS, ditetapkan Nomor 9, mempunyai kekuatan konstitusional, tapi toh memang ya tidak perlu untuk digunaken, hanya sekali itu saja,” kata Soeharto.

Berikut adalah transkrip lengkap penjelasan Soeharto dalam video kanal YouTube HM Soeharto, berjudul ‘Pak Harto Beberkan Detik-detik Lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret’. Video ini merekam penjelasan Soeharto saat Penerimaan Para Pejabat Teras Kepolisian RI di Tapos 6 Februari 1994.

Penjelasan Soeharto

Peristiwa sidang kabinet itu. Sidang kabinet, tanggal 11, kemudian ada berita Istana dikepung.

Saya kebetulan nggak hadir waktu itu, sedang kumat sakit tenggorokan, biasanya kalau kumat terus panas, sampai tahapan tiduran saja, sehingga saya tidak mengetahui.

Atas beliau, kemudian lantas, karena sudah melapor berlebih-lebihan itu, sehingga grogi daripada beliau, terus naik helikopter menuju ke Bogor diikuti dengan Waperdam (Wakil Perdana Menteri) lainnya.

Di antara kolega kita yang duduk di dalam kabinet, dua, yakni Saudara Jusuf (Brigjen M Jusuf, TNI AD) sama Basuki Rahmat (Brigjen, TNI AD), sama Panglima Kodam Amir Machmud (Brigjen), menyaksiken itu pada waktu meninggalken.

Beliau mempunyai perasaan bertiga itu, kasihan Bapaknya, supaya tidak merasa dikucilken oleh Angkatan Darat lantas mereka ingin menemani. Tapi ya supaya minta izin dulu kepada saya sebagai pimpinan tertinggi, datang ke rumah, untuk menyampaikan, ‘Pak, situasi sidang kabinet tadi begini, gini, gini. Bung Karno lantas ke Bogor. Kita bertiga minta izin ke Bogor untuk menemani Bung Karno’

‘Ya silahken.’

‘Lantas pesannya apa?’

‘Pesan saya begini saja, sampaikan bahwa saya ini sakit, betul-betul sakit. Sampaikan salam dan hormat saya. Yang ketiga, sampaikan saja kalau saya diberi kepercayaan, keadaan ini akan saya atasi.’

Itu pesan saya. Tidak ada surat pesan surat perintah begini begini, hehe. Karena dengan pesan itu, saya nilai dengan pertanyaan yang terakhir, beliau sudah tahu.

Oleh karena itu saya hanya pesan, kalau saya dipercayai, keadaan ini akan saya atasi.

Berangkat (tiga perwira tinggi AD itu ke Istan Bogor menemui Sukarno).

Akhirnya datang ke sana, dimarahi (oleh Sukarno) dan sebagainya. Lantas untuk cari jalan, bagaimana caranya menyelesaikan keadaan ini?

Ya dipercayakan saja kepada Pak Harto.

Beliau (Sukarno) marah lagi, ‘Kurang apa saya percaya kepada Harto, sudah dinaikkan pangkatnya, dan lain sebagainya.’ Hahaha… Kepada tiga perwira itu.

Ya barangkali perlu ada surat perintah lah.

Lantas beliau ngasih, ‘Kalau begitu, siapken!’

Dan disiapken oleh tiga perwira ditambah dengan tiga Waperdam itu untuk menyiapken surat perintah itu.

Entah itu sudah kehendak daripada Tuhan, perintah itu kan memang, ‘Memberiken wewenang kepada saya untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk menyelamatkan revolusi, dan sebagainya.’

Itu lama mempersiapkan, karena selesai, dikontrol lagi, akhirnya ditandatangani. Saya tandatangani, dibawa ke saya ke Haji Agus Salim, saya masih di Haji Agus Salim (Jl H Agus Salim di Jakarta). Saya baca, saya putusken, ‘Sekarang kumpul, bubarkan PKI!’ Hehehe…

Terus kita kumpul. Pada waktu itu segala langkah yang diambil harus konsultasi koordinasi dengan menteri-menteri panglima angkatan. Saya minta datang, saya bubarkan PKI.

Saya atas nama daripada Presiden, karena wewenang daripada diambilken pada beliau to. Lantas kita kumpul dan akhirnya kita bubarken PKI tersebut.

Ya hanya satu kali itu saja saya gunaken daripada Surat Perintah Sebelas Maret itu, walaupun kemudian Surat Perintah Sebelas Maret dikukuhkan oleh MPRS, ditetapkan Nomor 9, mempunyai kekuatan konstitusional, tapi toh memang ya tidak perlu untuk digunaken, hanya sekali itu saja.(**/>/<Redaksi Media Stabilitas)