admin August 26, 2020

Presiden Jokowi dan Menteri PUPR. (ist)

MEDIA STABILITAS.COM,- (JAKARTA)  –  Pemerintah akan membiayai pembangunan 31 proyek infrastruktur prioritas  dengan utang luar negeri pada 2020. Seluruh proyek itu membutuhkan pinjaman utang sebesar US$5,04 miliar atau setara Rp73,22 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS) dan pinjaman pendampingan US$545,56 juta atau Rp7,91 triliun.

Proyek itu tertuang dalam lampiran Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor KEP.65/M.PPN/HK/06/2020. Dalam lampiran beleid tertanggal 30 Juni 2020 tersebut, kebutuhan pinjaman utang dan pendampingan untuk membiaya proyek prioritas yang tersebar di beberapa kementerian/lembaga dan BUMN. Kebutuhan utang proyek tertinggi ada di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Secara rinci, ada sembilan proyek prioritas di Kementerian PUPR yang akan dibiayai oleh utang luar negeri. Mayoritas akan ditutup oleh pendanaan dari Bank Ekspor-Impor China (China Exim Bank/CEXIM).

Proyek terdiri dari pembangunan Tol Serang-Panimbang dengan kebutuhan pinjaman utang US$221 juta dan pendampingan US$38 juta dan Tol Semarang-Demak dengan utang sebesar US$555,05 juta dan pendampingan US$97,95 juta.

Lalu, Bendungan Jenelata dengan kebutuhan utang US$300 juta, Bendungan Riam Kiwa US$250 juta, Bendungan Lambakan US$450 juta dan pendampingan US$97,05 juta, dan Bendunga Pelosika US$300 juta dan pendampingan US$52,95 juta.

Sisanya akan ditutup oleh pendanaan dari Badan Kerjasama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA), Perusahaan Pinjaman Konstruksi (Kreditanstalt fur Wiederaufbau/KfW) Jerman, dan pinjaman dari Korea Selatan (Korsel). Pendanaan dari JICA untuk proyek Pengembangan Infrastruktur Permukiman Kabupaten dengan kebutuhan utang US$90 juta dan pendampingan US$15 juta.

Sementara pendanaan dari KfW untuk proyek Pengembangan Sistem Pasokan Air Daerah di Wosusokas dengan kebutuhan utang US$95,49 juta dan pendampingan US$37,28 juta. Sedangkan pendanaan dari Korsel untuk proyek Bendungan Karian-Serpong dengan kebutuhan utang US$257,18 juta.

Kemudian, kebutuhan utang terbanyak juga berasal dari proyek prioritas di Kementerian Perhubungan. Terdiri dari proyek Pelabuhan Patimban dengan kebutuhan utang US$674,98 juta yang rencananya akan ditutup dari pendanaan JICA dan proyek Pengembangan dan Peningkatan Bantuan Indonesia untuk Navigasi dengan kebutuhan utang US$67,25 juta dan pendampingan US$4,46 juta dari Korsel.

Selanjutnya, kebutuhan utang luar negeri juga untuk pembangunan proyek prioritas di Kementerian Kesehatan berupa penguatan rumah sakit (RS) Rujukan Nasional dan unit teknis vertikal senilai US$261,71 juta dan pendampingan US$30,59 juta. Rencananya pendanaan akan didapat dari Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IsDB).  (@)

Penulis   : Bruce Lee/Salahudin Ramli/Andi Priatna
Editor     : FS. Donggo
Foto        :  Kamal Jaya
Redaksi  : Media Stabilitas